Monday, December 10, 2012

ALKISAH


ALKISAH, ada seorang kakek yang tinggal di suatu dusun terpencil dimana puluhan tahun dalam hidupnya hanya pernah melihat mobil Toyota model kijang; extra grand, rover, kapsul, dan sbgnya. Suatu hari, sepasang kekasih muda melewati dusun tersebut dengan mengendarai mobil Volkswagen model kodok. Para penghuni dusun memperhatikan bentuk mobil yang tak biasa mereka lihat, termasuk kakek tersebut. Mereka mendebat makhluk macam apa yang tengah mereka saksikan.

Banyak orang yang bertahun-tahun mengenal dan mempelajari agama Islam HANYA melalui satu madzhab tertentu, kerap kurang mampu melihat kebenaran-kebenaran Islam melalui interpretasi madzhab-madzhab Islam lainnya. Ketika seorang anak muda mengatakan bahwa Volkswagen kodok adalah sebuah mobil juga, serta-merta sang kakek marah dan membantahnya.

Dalam dunia jejaring sosial, saya sering menemukan komentar bantah-membantah, kafir-mengkafirkan, sesat-mensesatkan antar orang-orang yang memeluk agama yang sama.

‘Konfrontasi’ merupakan paradigma paling primitif yang hingga kini ternyata masih digunakan manusia dalam ajang saling mengklaim kebenaran masing-masing.

Terkadang, rajin menambah kuantitas informasi tetapi tidak memperbaiki kualitas cara berpikir (paradigma) ibarat seseorang yang mengasah kemampuannya memanjat tetapi ia memanjat sebuah tangga yang disandarkan pada tembok yang salah.

Di sekolah kita terbiasa diberi pertanyaan yang mempunyai hanya satu jawaban. Pola multiple choice yang seringkali kita temukan sepanjang perjalanan hidup di dalam tembok akademis, pun sedikit-banyaknya mempengaruhi paradigma yang menjadikan kita sukar menerima bahwa ada “banyak jawaban berbeda yang sama-sama benar” dalam kehidupan di luar tembok.

Meski hanya ada satu jawaban benar dari pertanyaan 5 + 5 = X, namun dalam kehidupan sehari-hari, pada kenyataannya kita sering menemukan terdapat "banyak jawaban berbeda yang ternyata sama-sama benar", seperti 10 = X + Y.

No comments:

Post a Comment