ALKISAH, ada seorang
kakek yang tinggal di suatu dusun terpencil dimana puluhan tahun dalam hidupnya
hanya pernah melihat mobil Toyota model kijang; extra grand, rover, kapsul, dan
sbgnya. Suatu hari, sepasang kekasih muda melewati dusun tersebut dengan
mengendarai mobil Volkswagen model kodok. Para penghuni dusun memperhatikan bentuk
mobil yang tak biasa mereka lihat, termasuk kakek tersebut. Mereka mendebat
makhluk macam apa yang tengah mereka saksikan.
Banyak orang yang bertahun-tahun mengenal dan
mempelajari agama Islam HANYA melalui satu madzhab tertentu, kerap kurang mampu
melihat kebenaran-kebenaran Islam melalui interpretasi madzhab-madzhab Islam lainnya.
Ketika seorang anak muda mengatakan bahwa Volkswagen kodok adalah sebuah mobil
juga, serta-merta sang kakek marah dan membantahnya.
Dalam dunia jejaring sosial, saya sering menemukan komentar
bantah-membantah, kafir-mengkafirkan, sesat-mensesatkan antar orang-orang yang memeluk
agama yang sama.
‘Konfrontasi’ merupakan paradigma paling primitif yang hingga
kini ternyata masih digunakan manusia dalam ajang saling mengklaim kebenaran
masing-masing.
Terkadang, rajin menambah kuantitas informasi
tetapi tidak memperbaiki kualitas cara berpikir (paradigma) ibarat seseorang
yang mengasah kemampuannya memanjat tetapi ia memanjat sebuah tangga yang disandarkan
pada tembok yang salah.
Di sekolah kita terbiasa diberi pertanyaan yang mempunyai
hanya satu jawaban. Pola multiple choice
yang seringkali kita temukan sepanjang perjalanan hidup di dalam tembok
akademis, pun sedikit-banyaknya mempengaruhi paradigma yang menjadikan kita sukar
menerima bahwa ada “banyak jawaban berbeda yang sama-sama benar” dalam
kehidupan di luar tembok.
Meski hanya ada satu jawaban benar dari pertanyaan
5 + 5 = X, namun dalam kehidupan sehari-hari, pada kenyataannya kita sering menemukan terdapat "banyak jawaban berbeda yang ternyata sama-sama benar", seperti 10 = X + Y.
No comments:
Post a Comment