KONFRONTASI adalah
metode komunikasi paling primitif yang masih digunakan hingga zaman ini. Di
sekolah, para pengajar kerap menggunakannya sebagai pendidikan dalam diskusi, seperti
dengan membagi para pelajar ke dalam dua kelompok; kelompok yang menyetujui suatu
pendapat, kelompok yang menentangnya. Di
Amerika, dua partai besar saling melakukan konfrontasi dalam tiap musim kampanye.
Konfrontasi juga sering terjadi dalam suatu organisasi dalam skala
lingkup yang lebih kecil: antar supporter
sepakbola, antar warga, antar pemilihan ketua RT, dan sebagainya.
Atau scope organisasi yang lebih
kecil lagi; antara anak dengan orangtua, antara suami dengan istri, antara adik
dengan kakak. Bahkan sesama kucing pun konfrontasi sering terjadi.
Konfrontasi hampir mustahil dapat di hindari. Bahkan bisa dikatakan mustahil
seseorang tidak pernah terlibat konfrontasi dengan oranglain, kecuali ia seumur
hidupnya hidup sendirian. Bahkan, konfrontasi dapat juga terjadi dalam diri sendiri
(a.k.a komunikasi intrapersonal).
Konfrontasi adalah konsekuensi dari perbedaan, sedangkan perbedaan adalah suatu keniscayaan. Namun, perbedaan bukanlah halangan untuk hidup saling
beriringan, bahkan merupakan alasan untuk saling mencintai dan mengasihi.
Hujan dan sinar matahari telah menampakkan kepada kita keindahan pelangi
yang terdiri dari warna-warna berbeda namun saling berdampingan menciptakan
sinergi keindahan yang jauh lebih indah jika dibandingkan dengan keindahannya
yang terpisah-pisah.
Warna-warna pelangi tersebut berasal
dari satu warna, demikian menurut Isaac Newton.
Perbedaan itu sudah menjadi kehendak (iradah) dari Yang Maha Satu (Ahad).
Mengingkarinya, menafikannya, berarti tidak meridhai iradah-Nya. Kita diajak
membaca dan merenungkan (iqra’) agar dapat menemukan hikmah-hikmah dari
keniscayaan perbedaan tersebut.
No comments:
Post a Comment