Sunday, December 2, 2012

MEMBACA ARAH ANGIN


Kita harus MEMBACA ARAH ANGIN sebelum menerbangkan layang-layang.

Dokter wajib mendiagnosa pasiennya untuk menentukan resep yang tepat; penyakit yang di derita, daya tahan tubuh, kemampuan keuangan.

Guru harus memahami karakter dominan masing-masing muridnya; tipe visual, auditori, atau kinesketik.

Orangtua seyogyanya mengenal betul kecenderungan watak masing-masing anaknya; hobinya, cita-cita, orang-orang yang dikagumi, kawan-kawan akrabnya.

Setiap kekasih sangat dianjurkan mengetahui sifat-sifat pasangan hidupnya; latar belakang keluarga, pendidikan, kedekataan agama, pergaulan sosialnya.

Dalam hidup ini, perbedaan adalah suatu keniscayaan. Perbedaan adalah kehendak Sang Pencipta. Dikatakan bahwa, tujuan DIA menciptakan perbedaan adalah untuk saling “kenal-mengenal.”

Cara mengenal paling ampuh adalah dengan mengetahui paradigma seseorang; cara ia melihat, menafsirkan dunia. Bukan waktu yang singkat, bahkan bisa bertahun-tahun hingga kita benar-benar mampu memahami serta melihat melalui “kacamata” mereka, bukan dengan “kacamata” kita lagi.

Akan terdapat banyak pertengkaran, perdebatan, pertikaian, bahkan peperangan hingga sampai pada tingkat pengenalan yang lebih tinggi, yakni saling pengertian, saling memahami, saling empati, dan saling mencintai satu sama lain dengan ketulusan yang luhur.

Ada saatnya ketika antara kekasih, antara anak dan orangtua, antara keluarga, antara bangsa, antara ras, etnis, serta agama, yang sebelumnya bertatap muka saling berdebat, bertikai, bertengkar, dan berperang, suatu saat di ujung hari masing-masing akan duduk berdampingan memandang ke arah yang sama, berkomunikasi dari hati ke hati, saling memahami satu sama lain, dan saling berlomba-lomba berbagi kasih sayang serta menebar kebahagiaan.


“Aku Maha Tahu, sedangkan kalian tidak tahu”, demikian jawaban Tuhan membantah prediksi para malaikat tentang masa depan manusia yang diramalkan hanya membuat kehancuran dan pertumpahan darah di bumi.

Pertumpahan darah antar manusia memang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, sesuai prediksi para malaikat. Kendatipun, mereka tidak mengetahui makna sesungguhnya di balik itu semua.

Mudah-mudahan, apa yang saya paparkan di atas merupakan salah satu hikmah di balik itu semua.

“Tidaklah kita (salah satu makhluk Tuhan) diciptakan bergolong-golongan (dalam keadaan memiliki keniscayaan perbedaan), kecuali bertujuan untuk saling kenal-mengenal satu sama lain (ta’aaruf).”

No comments:

Post a Comment