Kita harus MEMBACA
ARAH ANGIN sebelum menerbangkan layang-layang.
Dokter wajib mendiagnosa pasiennya untuk menentukan
resep yang tepat; penyakit yang di derita, daya tahan tubuh, kemampuan keuangan.
Guru harus memahami karakter dominan masing-masing
muridnya; tipe visual, auditori, atau kinesketik.
Orangtua seyogyanya mengenal betul kecenderungan watak
masing-masing anaknya; hobinya, cita-cita, orang-orang yang dikagumi, kawan-kawan
akrabnya.
Setiap kekasih sangat dianjurkan mengetahui
sifat-sifat pasangan hidupnya; latar belakang keluarga, pendidikan,
kedekataan agama, pergaulan sosialnya.
Dalam hidup ini, perbedaan adalah suatu
keniscayaan. Perbedaan adalah kehendak Sang Pencipta. Dikatakan bahwa, tujuan DIA
menciptakan perbedaan adalah untuk saling “kenal-mengenal.”
Cara mengenal paling ampuh adalah dengan mengetahui
paradigma seseorang; cara ia melihat, menafsirkan dunia. Bukan waktu yang
singkat, bahkan bisa bertahun-tahun hingga kita benar-benar mampu memahami serta melihat melalui “kacamata” mereka, bukan dengan “kacamata” kita
lagi.
Akan terdapat banyak pertengkaran, perdebatan,
pertikaian, bahkan peperangan hingga sampai pada tingkat pengenalan yang lebih tinggi, yakni saling pengertian, saling
memahami, saling empati, dan saling mencintai satu sama lain dengan ketulusan
yang luhur.
Ada saatnya ketika antara kekasih, antara anak dan
orangtua, antara keluarga, antara bangsa, antara ras, etnis, serta agama, yang
sebelumnya bertatap muka saling berdebat, bertikai, bertengkar, dan berperang, suatu saat di ujung hari masing-masing akan duduk berdampingan memandang ke arah yang
sama, berkomunikasi dari hati ke hati, saling memahami satu sama lain, dan
saling berlomba-lomba berbagi kasih sayang serta menebar kebahagiaan.
“Aku Maha Tahu, sedangkan kalian tidak tahu”, demikian
jawaban Tuhan membantah prediksi para malaikat tentang masa depan manusia yang
diramalkan hanya membuat kehancuran dan pertumpahan darah di bumi.
Pertumpahan darah antar manusia memang terjadi sepanjang
sejarah peradaban manusia, sesuai prediksi para malaikat. Kendatipun, mereka
tidak mengetahui makna sesungguhnya di balik itu semua.
Mudah-mudahan, apa yang saya paparkan di atas
merupakan salah satu hikmah di balik itu semua.
“Tidaklah kita (salah satu makhluk Tuhan) diciptakan
bergolong-golongan (dalam keadaan memiliki keniscayaan perbedaan), kecuali
bertujuan untuk saling kenal-mengenal satu sama lain (ta’aaruf).”

No comments:
Post a Comment