Friday, November 30, 2012

KISAH SINETRON


KISAH SINETRON umumnya mengambil tema-tema dari kehidupan nyata. Kadang sinetron terlalu mendramatisir. Namun, kadangkala ada juga kehidupan nyata yang lebih dramatis melebihi kisah sinetron.

Karakter tokoh-tokoh sinetron kita masih terlalu ekstrim. Karakter tokoh utama terlalu baik, terlalu ikhlas, terlalu lemah-lembut, dan tokoh antagonis teramat kejam, teramat bengis, licik, serta jahat sejahat-jahatnya. Padahal dalam dunia nyata, orang baik tidak se-ekstrim malaikat dan yang jahat tidak se-ekstrim iblis.

Masih sedikit kita dapati sinetron-sinetron Indonesia dimana karakter para tokohnya mencerminkan watak yang mendekati kehidupan nyata. Sinetron Korea jauh lebih unggul menciptakan tokoh-tokoh yang lebih ‘fleksibel’; ada kalanya tokoh utama pernah melakukan kesalahan dan khilaf, ada kalanya tokoh antagonis tidak sejahat yang kita kira, dan pernah melakukan kebaikan juga.

Hidup kita bisa dikatakan tidak begitu jauh berbeda dengan sinetron. Namun, tidak seperti sinetron di tivi, dalam kehidupan nyata kita merupakan salah satu tokoh yang turut berperan. Jauh lebih mudah menebak siapa tokoh antagonis dan siapa tokoh utama dalam sinteron tivi dibandingkan dalam ‘sinetron’ kehidupan kita.

Sebenarnya yang tengah saya kemukakan adalah; amatlah sulit melihat suatu lukisan jika kita merupakan bagian dari lukisan itu sendiri. Untuk melihat lukisan secara utuh, kita harus keluar dari bingkai lukisan kita.

Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat di malam hari sunyi yang tenang, dalam renungan sesekali Anda ‘melihat’ sinetron kehidupan Anda dengan view yang lebih jelas, seakan-akan Anda sedang menonton kisah kehidupan Anda seperti menonton sinetron di tivi.

Sepengetahuan saya pribadi, - yang sangat amat-amat terbatas - salah satu dari beberapa ajaran mistisisme (tasawuf/irfan), para mursyid mengarahkan murid-muridnya untuk keluar dari ‘bingkai lukisan’ dirinya sendiri, lukisan sinetron kehidupannya pribadi. 

Diharapkan dengan view angle tsb, mereka dapat lebih mudah menyingkap hikmah-hikmah dengan jelas di balik berbagai problematika kehidupannya.


Wednesday, November 28, 2012

PARADIGMA


PARADIGMA dalam pengertian yang lebih umum adalah cara kita “melihat” dunia – bukan dengan pengertian visual dari tindakan melihat, melainkan berkaitan erat dengan persepsi, mengerti, menafsirkan. Kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya – atau, sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya. 

Analoginya, paradigma ibarat “kacamata” yang kita pakai untuk melihat.

Seperti kisah yang dikemukakan sebelumnya ( http://celoteh-alfieqashwa.blogspot.com/2012/11/di-tepi-pantai.html ), dua wanita memperdebatkan tentang perbedaan warna laut yang mereka lihat dimana perbedaan tersebut dikarenakan masing-masing sedang memakai warna lensa kacamata yang berbeda. 

Kemudian datang wanita ketiga yang lebih jernih penglihatannya karena ia tidak sedang memakai kacamata berlensa yang membiaskan warna objek yang dilihat. 



Namun, ada seorang pria yang sebenarnya melihat warna yang sama seperti yang di lihat wanita ketiga, tetapi pria berdarah minang itu menyatakannya dengan “simbol” kata yang berbeda dengan simbol-simbol yang umum kita sepakati. Kerap kita menyebut perbedaan antara wanita ketiga dan pria tersebut dengan miskomunikasi. 

Tidak semua indera berfungsi sempurna, umpamanya seperti yang dimiliki pria kedua yang mengaku buta warna. Ia tidak yakin dengan warna yang dilihatnya sendiri sehingga ia tidak mendebat meski ia melihat warna yang berbeda dengan keempat orang di tepi pantai tersebut. 

Pun, indera yang sempurna tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok-ukur dalam menentukan kebenaran.








Akal merupakan alat yang lebih tinggi tingkat keabsahannya dibanding indera. Akal membuktikan bahwa sesungguhnya air tidak memiliki warna. 

Air hanya menyerap cahaya dan merefleksikannya – seperti penjelasan para ilmuwan tentang warna laut yang telah saya paparkan dalam note sebelumnya.


Mata kita melihat bahwa bulan lebih besar daripada bintang, namun akal membuktikan sebaliknya.


DI TEPI PANTAI


DI TEPI PANTAI, dua orang wanita sedang berdebat tentang warna laut. Wanita pertama mengatakan bahwa air laut berwarna merah. Wanita kedua membantahnya karena ia melihat warna laut adalah kuning. 

Anda tak perlu heran dengan kisah perdebatan fiksi buatan saya. Jelas kedua wanita itu berbeda pendapat karena wanita pertama tengah memakai kacamata berlensa merah, sedangkan wanita kedua memakai kacamata berlensa kuning.

Kemudian datang wanita ketiga yang mengatakan bahwa laut berwarna biru cerah. Wanita tersebut tidak sedang memakai kacamata. Datang pula seorang pria yang membantah ketiga wanita tersebut. Pria itu mengatakan bahwa warna laut adalah hijau. Pria tersebut juga tidak sedang memakai kacamata, sama seperti wanita ketiga. 

Sekali lagi, Anda tidak perlu heran karena pria tersebut adalah orang Minang asli, yang biasa terbalik mengatakan hijau itu biru dan biru itu hijau. J

Lalu datang pria kedua yang mengatakan bahwa ia melihat warna laut itu berwarna ungu. Namun, pria kedua itu tidak yakin dengan kebenaran warna yang dilihatnya itu karena ia menyadari bahwa ia adalah seorang yang buta warna. Pria kedua tsb tidak mendebat meski warna laut yang dilihatnya berbeda dengan keempat orang yang sedang berdebat.



Anda mungkin sepakat dengan wanita ketiga karena umumnya laut terlihat berwarna biru. Mungkin Anda juga pernah sesekali melihat air laut yang terlihat berwarna hijau dan bertanya-tanya apa warna laut sesungguhnya. 

Pada dasarnya, air tidak memiliki warna. Air hanya menyerap cahaya yang kemudian merefleksikannya. Di laut, cara utama air berinteraksi adalah dengan penyerapan cahaya; air menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih rendah, air juga menyerap cahaya kuning dan hijau, menyebabkan warnanya bisa berubah-ubah tergantung kedalaman dan tempatnya.

 Pada umumnya lautan terlihat berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada sinar lain.

“Warna biru merupakan warna yang paling tidak diserap oleh air, sehingga air nampak berwarna biru”. Singkatnya, semakin dalam kedalaman laut, semakin ia berwarna kebiruan. Demikian penjelasan para ilmuwan.

FUNGSI KOSMETIK


FUNGSI KOSMETIK menjadikan wajah wanita terlihat makin menarik. Kosmetik dapat menutupi kulit wajah yang kurang sehat, juga dapat memberi kesan wajah yang lebih proporsional dibanding aslinya . Bahkan, kosmetik dapat juga menipu.

Banyak training kepribadian dimana kita diajarkan kita-kiat merias kepribadian kita dengan kosmetik Sikap Mental Positif (SMP); bagaimana cara tersenyum untuk membuat kesan pribadi yang ramah, bagaimana cara berjabat tangan agar terkesan memiliki jiwa yang optimis, bagaimana cara membuat kesan 'pendengar antusias' di mata lawan bicara, bagaimana cara mengambil hati masyarakat demi tujuan politis semata, dan sebagainya.

Dalam training-training, para mentor MLM (Multi Level Marketing) - juga para marketing asuransi - kerap menyuguhkan bagaimana cara 'merias' kepribadian agar mendapatkan kesan baik di mata calon prospek. Mereka mengajarkan trik-trik seputar kemampuan mempengaruhi, menggiring topik pembicaraan, serta memaparkan berbagai permasalahan agar calon prospek dapat melihat produk-produk yang ditawarkan merupakan sebuah solusi. Kehebatan para mentor, mereka mampu mengeksploitasi semangat para member untuk mencari member-member selanjutnya.



Agak melelahkan merias kepribadian jika pada kenyataannya karakter kita tidak sekuat kenyataannya. Trik-trik instan merias kepribadian mungkin bisa berhasil membuat kesan yang diharapkan terhadap orang-orang yang tidak setiap hari kita temui. Namun bagi orang-orang yang hidup bersama kita dan telah mengenal kita cukup lama, mereka acapkali jelas melihat kemenduaan model kepribadian tersebut.

Kejujuran dalam hidup membentuk karakter yang kuat. Berpura-pura menjadi pribadi lain berakibat buruk terutama dalam hubungan jangka panjang. Membiasakan diri untuk menampakkan pribadi dengan apa adanya, baik-buruknya, jauh lebih utama daripada upaya merias kepribadian. 

Meski terkadang penting juga, namun baiknya kita gunakan kosmetik seperlunya saja, agar 'kulit wajah' tidak lelah.

BERBAGAI


BERBAGAI training “Emotional Quotient (EQ)”, pembentukkan imej adalah priotasnya. Anda hanya akan diajarkan ‘bagaimana cara agar orang lain menganggap Anda adalah orang baik yang dapat dipercaya’ alih-alih mengajarkan kepada Anda menjadi pribadi baik yang layak dipercaya dengan sebenar-benarnya. 

Banyak sekali buku-buku psikologi populer menyajikan kita-kiat jitu untuk ‘membentuk persepsi oranglain terhadap diri Anda sesuai dengan apa yang Anda harapkan’, dan bukan untuk membentuk karakter menjadi pribadi yang baik seperti cara para guru agama kita biasanya memberi teladan.

DR. Stephen R. Covey mengkritik buku-buku psikologi populer tersebut yang hanya berorientasi terhadap Etika Kepribadian semata. Dalam bukunya “The 7 Habits of Highly Effective People” beliau melakukan pendekatan “dari dalam ke luar”, yang  memprioritaskan pembentukan karakter diri yang baik. 

Terkait atau tidak, setelah buku fenomenal itu laris-manis, tema EQ cepat membasi dan kini para psikolog mulai membahas SQ (Spiritual Quotient), mendekati ajaran agama-agama besar.

Ada perbedaan antara persepsi dengan kenyataan. "Persepsi adalah sesuatu yang nyata, namun bukan merupakan kenyataan.", demikian ungkap Edward De Bono. Seperti halnya imej kita tentang pribadi seseorang, belum tentu sesuai dengan watak aslinya.

SATU INFORMASI


SATU INFORMASI yang di terima tidak mesti menciptakan satu persepsi. Persepsi tiap orang tidak serta-merta pasti sama, meski informasi yang diterima masing-masing persis sama. 

Persepsi yang berbeda akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Definisi sejarah adalah “fakta + interpretasi.” Faktanya sama-sama mengakui, bahwa ada pergerakan yang dikomandoi oleh Pangeran Diponegoro. Bagi kita bangsa Indonesia, beliau adalah seorang pahlawan. Namun bagi VOC, beliau adalah pemberontak.

Tidaklah mengherankan jika pembuatan sejarah suatu bangsa sangat bergantung dengan rezim yang berkuasa. Bukan hanya pemutarbalikan fakta, namun interpretasi yang diciptakan pun bergantung kemauan penguasa meski tanpa harus memutarbalikan fakta. 

Dalam dunia selebritis, imej seorang artis dapat ‘di bunuh’ habis-habisan oleh sebuah infotainment setelah suatu kali sang artis melecehkan harga diri salah seorang wartawannya dalam sebuah wawancara. Padahal sebelumnya, infotainment yang sama pernah turut berkontribusi melesatkan nama artis tersebut menjadi terkenal. ‘Pembunuhan karakter’ seseorang dapat lebih menyakitkan dibanding pembunuhan dalam artian sebenarnya.

Yang ingin saya katakan adalah, ada beragam persepsi. 
Seperti, Ibu Anda mungkin menyalahkan A’a Gym yang berpoligami. Tetapi Ayah Anda justru mendukungnya, meski dukungannya terhadap A’a baru berani beliau lakukan dalam hati.

ORANGTUA DAN PARA GURU


ORANGTUA DAN PARA GURU kerap mengajarkan cara baik, seperti “lihat kiri dan lihat kanan” ketika hendak menyeberang jalan. Mereka juga mengatakan kepada kita untuk mendengar dari ‘telinga kiri dan kanan’, bentuk ungkapan konotasi agar kita membiasakan mendengar dari berbagai sisi. 

Para ilmuwan menyatakan bahwa ‘otak kanan’ dan ‘otak kiri’ memiliki fungsi berpikir serta cara kerja yang berbeda – bahkan dapat dikatakan bertolak belakang – dalam memproses stimulus-stimulus yang diterimanya. Di butuhkan tesa serta anti-tesa untuk merumuskan sintesa.

Naluri dasar kita sebenarnya mengetahui betul bahwa mendengarkan dari berbagai sumber merupakan sikap bijaksana. Kita pun amat sadar bahwa tidak baik menyimpulkan sesuatu berdasarkan satu sumber informasi semata. Sekiranya satu sumber itu pun benar, setidaknya kita membutuhkan informasi lain untuk membuktikan kebenaran sumber tersebut.

Kita mengetahui dan sepakat tentang semua hal itu. Namun, mengaktualisasikannya tak semudah penyepakatan, jika kita tidak membiasakan diri.