Wednesday, November 28, 2012

SATU INFORMASI


SATU INFORMASI yang di terima tidak mesti menciptakan satu persepsi. Persepsi tiap orang tidak serta-merta pasti sama, meski informasi yang diterima masing-masing persis sama. 

Persepsi yang berbeda akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Definisi sejarah adalah “fakta + interpretasi.” Faktanya sama-sama mengakui, bahwa ada pergerakan yang dikomandoi oleh Pangeran Diponegoro. Bagi kita bangsa Indonesia, beliau adalah seorang pahlawan. Namun bagi VOC, beliau adalah pemberontak.

Tidaklah mengherankan jika pembuatan sejarah suatu bangsa sangat bergantung dengan rezim yang berkuasa. Bukan hanya pemutarbalikan fakta, namun interpretasi yang diciptakan pun bergantung kemauan penguasa meski tanpa harus memutarbalikan fakta. 

Dalam dunia selebritis, imej seorang artis dapat ‘di bunuh’ habis-habisan oleh sebuah infotainment setelah suatu kali sang artis melecehkan harga diri salah seorang wartawannya dalam sebuah wawancara. Padahal sebelumnya, infotainment yang sama pernah turut berkontribusi melesatkan nama artis tersebut menjadi terkenal. ‘Pembunuhan karakter’ seseorang dapat lebih menyakitkan dibanding pembunuhan dalam artian sebenarnya.

Yang ingin saya katakan adalah, ada beragam persepsi. 
Seperti, Ibu Anda mungkin menyalahkan A’a Gym yang berpoligami. Tetapi Ayah Anda justru mendukungnya, meski dukungannya terhadap A’a baru berani beliau lakukan dalam hati.

No comments:

Post a Comment