PARADIGMA dalam pengertian yang lebih umum adalah cara kita
“melihat” dunia – bukan dengan pengertian visual dari tindakan melihat,
melainkan berkaitan erat dengan persepsi, mengerti, menafsirkan. Kita melihat
dunia, bukan sebagaimana dunia adanya,
melainkan sebagaimana kita adanya –
atau, sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya.
Analoginya, paradigma ibarat “kacamata” yang kita pakai untuk melihat.
Seperti
kisah yang dikemukakan sebelumnya ( http://celoteh-alfieqashwa.blogspot.com/2012/11/di-tepi-pantai.html ), dua wanita memperdebatkan tentang perbedaan
warna laut yang mereka lihat dimana perbedaan tersebut dikarenakan
masing-masing sedang memakai warna lensa kacamata yang berbeda.
Kemudian datang wanita ketiga yang lebih jernih penglihatannya karena ia tidak sedang memakai kacamata berlensa yang membiaskan warna objek yang dilihat.
Kemudian datang wanita ketiga yang lebih jernih penglihatannya karena ia tidak sedang memakai kacamata berlensa yang membiaskan warna objek yang dilihat.
Namun, ada seorang pria yang sebenarnya
melihat warna yang sama seperti yang di lihat wanita ketiga, tetapi pria berdarah minang itu menyatakannya dengan “simbol” kata yang berbeda dengan simbol-simbol yang umum kita sepakati. Kerap kita menyebut
perbedaan antara wanita ketiga dan pria tersebut dengan “miskomunikasi”.
Tidak semua indera berfungsi sempurna, umpamanya
seperti yang dimiliki pria kedua yang mengaku buta warna. Ia tidak yakin
dengan warna yang dilihatnya sendiri sehingga ia tidak mendebat meski ia melihat
warna yang berbeda dengan keempat orang di tepi pantai tersebut.
Pun, indera yang sempurna tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok-ukur dalam menentukan kebenaran.
Pun, indera yang sempurna tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok-ukur dalam menentukan kebenaran.
Akal merupakan alat yang lebih tinggi tingkat
keabsahannya dibanding indera. Akal membuktikan bahwa sesungguhnya air tidak memiliki warna. Air hanya menyerap cahaya dan merefleksikannya – seperti penjelasan para ilmuwan tentang warna laut yang telah saya paparkan dalam note sebelumnya.
Mata kita melihat bahwa bulan lebih besar daripada
bintang, namun akal membuktikan sebaliknya.


No comments:
Post a Comment