Wednesday, November 28, 2012

PARADIGMA


PARADIGMA dalam pengertian yang lebih umum adalah cara kita “melihat” dunia – bukan dengan pengertian visual dari tindakan melihat, melainkan berkaitan erat dengan persepsi, mengerti, menafsirkan. Kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya – atau, sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya. 

Analoginya, paradigma ibarat “kacamata” yang kita pakai untuk melihat.

Seperti kisah yang dikemukakan sebelumnya ( http://celoteh-alfieqashwa.blogspot.com/2012/11/di-tepi-pantai.html ), dua wanita memperdebatkan tentang perbedaan warna laut yang mereka lihat dimana perbedaan tersebut dikarenakan masing-masing sedang memakai warna lensa kacamata yang berbeda. 

Kemudian datang wanita ketiga yang lebih jernih penglihatannya karena ia tidak sedang memakai kacamata berlensa yang membiaskan warna objek yang dilihat. 



Namun, ada seorang pria yang sebenarnya melihat warna yang sama seperti yang di lihat wanita ketiga, tetapi pria berdarah minang itu menyatakannya dengan “simbol” kata yang berbeda dengan simbol-simbol yang umum kita sepakati. Kerap kita menyebut perbedaan antara wanita ketiga dan pria tersebut dengan miskomunikasi. 

Tidak semua indera berfungsi sempurna, umpamanya seperti yang dimiliki pria kedua yang mengaku buta warna. Ia tidak yakin dengan warna yang dilihatnya sendiri sehingga ia tidak mendebat meski ia melihat warna yang berbeda dengan keempat orang di tepi pantai tersebut. 

Pun, indera yang sempurna tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok-ukur dalam menentukan kebenaran.








Akal merupakan alat yang lebih tinggi tingkat keabsahannya dibanding indera. Akal membuktikan bahwa sesungguhnya air tidak memiliki warna. 

Air hanya menyerap cahaya dan merefleksikannya – seperti penjelasan para ilmuwan tentang warna laut yang telah saya paparkan dalam note sebelumnya.


Mata kita melihat bahwa bulan lebih besar daripada bintang, namun akal membuktikan sebaliknya.


No comments:

Post a Comment