KISAH SINETRON umumnya
mengambil tema-tema dari kehidupan nyata. Kadang sinetron terlalu mendramatisir.
Namun, kadangkala ada juga kehidupan nyata yang lebih dramatis melebihi kisah
sinetron.
Karakter tokoh-tokoh sinetron kita masih terlalu
ekstrim. Karakter tokoh utama terlalu baik, terlalu ikhlas, terlalu
lemah-lembut, dan tokoh antagonis teramat kejam, teramat bengis, licik, serta jahat sejahat-jahatnya. Padahal dalam dunia nyata, orang baik tidak se-ekstrim
malaikat dan yang jahat tidak se-ekstrim iblis.
Masih sedikit kita dapati sinetron-sinetron Indonesia
dimana karakter para tokohnya mencerminkan watak yang mendekati kehidupan
nyata. Sinetron Korea jauh lebih unggul menciptakan tokoh-tokoh yang lebih ‘fleksibel’;
ada kalanya tokoh utama pernah melakukan kesalahan dan khilaf, ada kalanya
tokoh antagonis tidak sejahat yang kita kira, dan pernah melakukan kebaikan
juga.
Hidup kita bisa dikatakan tidak begitu jauh berbeda
dengan sinetron. Namun, tidak seperti sinetron di tivi, dalam kehidupan nyata kita
merupakan salah satu tokoh yang turut berperan. Jauh lebih mudah menebak siapa
tokoh antagonis dan siapa tokoh utama dalam sinteron tivi dibandingkan dalam ‘sinetron’
kehidupan kita.
Sebenarnya yang tengah saya kemukakan adalah; amatlah
sulit melihat suatu lukisan jika kita merupakan bagian dari lukisan itu sendiri.
Untuk melihat lukisan secara utuh, kita harus keluar dari bingkai lukisan kita.
Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat di malam
hari sunyi yang tenang, dalam renungan sesekali Anda ‘melihat’ sinetron kehidupan Anda
dengan view yang lebih jelas,
seakan-akan Anda sedang menonton kisah kehidupan Anda seperti menonton sinetron di tivi.
Diharapkan dengan view angle
tsb, mereka dapat lebih mudah menyingkap hikmah-hikmah dengan jelas di balik berbagai problematika kehidupannya.















