Thursday, April 9, 2015

KESEPAKATAN 1100011



Pertanyaannya; Berapa jumlah Asma ul-Husna ?

Desi menjawab 99. Okta kawan sebangkunya menjawab 143. Heksa di barak sebelah tunjuk tangan dan menjawab yakin 63. Sang Guru membenarkan ketiga jawaban tersebut.



Matimatika adalah ilmu kesepakatan - alih-alih kepastian. Jika kesepakatannya; "jawablah dalam bilangan biner" maka ketiga jawaban tersebut salah. Jika tanpa kesepakatan yang jelas, maka jawaban Desi, Okta, dan Heksa tidak dapat dipersalahkan.



Dalam suatu diskusi atau perdebatan antar mazhab tentang "Apakah Khalid bin Walid adalah Sahabat Rasulullaah?" orang Sunni kaget ketika mengetahui jawaban orang Syiah adalah "tidak". Sebaliknya, orang Syiah tidak menyepakati jawaban orang Sunni bahwa Khalid ibn Walid adalah Sahabat Rasulullaah. Anda tidak akan bingung dengan fenomena ini jika Anda mengetahui bahwa "definisi Sahabat" kedua mazhab itu berbeda.

Seorang Sunni akan menuduh bahwa Syiah meremehkan Ibadah Haji karena Haji tidak dimasukkan ke dalam Rukun Islam Mazhab Syiah. Dengan asumsi yang sama, orang Syiah boleh balik menuduh bahwa orang Sunni meremehkan keutamaan Jihad karena tidak memasukkannya ke dalam Rukun Islam. Anda tidak akan bingung jika mendapati bahwa kaidah-kaidah masing-masing pun berbeda dalam merumuskan Rukun Islam.

Apa yang Anda fikirkan ketika melihat dua orang berdebat di pasar perihal tentang berat sekarung beras dimana masing-masing merujuk pada timbangan yang mereka bawa dari rumah ?

Terkadang, kesepakatan dalam memulai suatu diskusi lebih layak untuk di apresiasi meski hasilnya adalah ketidaksepakatan -- ketimbang diskusi yang tidak di mulai dengan kesepakatan meski hasil akhirnya adalah kata sepakat.

Saya tutup dengan sejarah "kecil" pergulatan antar-mazhab berikut ini: 

Zaman dahulu, orang NU dan MU sering bertengkar perihal qunut shubuh. Konon, bahkan penerimaan dan penolakan calon menantu bergantung dengan qunut-tidaknya shubuh mereka. Alhamdulillaah. Kini anak-anak muda NU dan MU tidak lagi bertengkar tentang soal qunut Shubuh setelah adanya JIL dan JIM -- karena kedua-duanya sudah sama-sama tidak shalat shubuh. :P


Thursday, April 24, 2014

DISKRIMINASI

Di kampus acara Rohis, jika hadir seorang mahasiswi gaul yang memakai pakaian ketat, ia rentan terdiskriminasi. Di tempat billiard, seorang wanita UIN penggemar billiard yang berjilbab merasa risih tiap kali orang memandang kepadanya. 

Ahok, adalah politisi yang seringkali mendapat diskriminasi lantaran latar-belakangnya yang Kristen dan keturunan Tiongkok. Imanuel yang yatim, tidak pernah mendapat sembako di setiap peringatan Hari Yatim di mesjid dekat rumahnya.

Diskriminasi adalah sebuah kata yang seringkali kita maknai selalu berseberangan dengan kata keadilan.



Seorang Ayah memberikan uang saku 50ribu rupiah kepada anaknya yang duduk di bangku SMA, dan 10ribu rupiah kepada anaknya yang SD. Anak kedua protes, “Ayah tidak adil, ini diskriminasi keluarga”.

Ade mendapat nilai merah pada raportnya pada mata pelajaran matimatika, sedangkan Silvia yang rajin mendapat nilai angka sembilan. Ade protes, bahwa ini adalah diskriminasi akademis.

Asmirandah dilarang oleh orangtuanya menikah dengan pacarnya yang berbeda agama. Asmirandah protes keras bahwa ini adalah diskriminasi agama.


Pertanyaannya; apakah kata DISKRIMINASI selalu melambangkan ketidakadilan ??

Sunday, December 1, 2013

REFLEKSI

Muhammad bin Idris Asy-Syafi`i (Imam Syafi'i) mempunyai dua (periode) ijtihad berbeda, Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Yang pertama adalah ketika beliau masih belajar di Madinah dengan Imam Malik, dan yang kedua adalah ketika beliau berada di Baghdad setelah belajar dengan murid-murid Imam Hanafi. Perubahan hasil ijtihad-ijtihadnya selama di Madinah dengan ketika berada di Baghdad disebabkan oleh perkembangan wawasan keilmuannya, faktor lingkungan serta geografis yang berbeda.



Madzhab bisa dikatakan merupakan produk hasil REFLEKSI seorang Imam terhadap agamanya yang disebarkan para murid-muridnya dan di ikuti oleh masyarakat awam, yang berkembang serta terbentuk matang dalam rentang periode tertentu. 

Ketika agama adalah objek, madzhab adalah hasil dari observasi terhadap suatu agama yang PASTI tercampur oleh refleksi subjek (Imam) itu sendiri.

Anda berdiri darimana Anda duduk !





Tuesday, December 18, 2012

KONFRONTASI


KONFRONTASI adalah metode komunikasi paling primitif yang masih digunakan hingga zaman ini. Di sekolah, para pengajar kerap menggunakannya sebagai pendidikan dalam diskusi, seperti dengan membagi para pelajar ke dalam dua kelompok; kelompok yang menyetujui suatu pendapat,  kelompok yang menentangnya. Di Amerika, dua partai besar saling melakukan konfrontasi dalam tiap musim kampanye.

Konfrontasi juga sering terjadi dalam suatu organisasi dalam skala lingkup yang lebih kecil: antar supporter sepakbola, antar warga, antar pemilihan ketua RT, dan sebagainya.
Atau scope organisasi yang lebih kecil lagi; antara anak dengan orangtua, antara suami dengan istri, antara adik dengan kakak. Bahkan sesama kucing pun konfrontasi sering terjadi.

Konfrontasi hampir mustahil dapat di hindari. Bahkan bisa dikatakan mustahil seseorang tidak pernah terlibat konfrontasi dengan oranglain, kecuali ia seumur hidupnya hidup sendirian. Bahkan, konfrontasi dapat juga terjadi dalam diri sendiri (a.k.a komunikasi intrapersonal).

Konfrontasi adalah konsekuensi dari perbedaan, sedangkan perbedaan adalah suatu keniscayaan. Namun, perbedaan bukanlah halangan untuk hidup saling beriringan, bahkan merupakan alasan untuk saling mencintai dan mengasihi.

Hujan dan sinar matahari telah menampakkan kepada kita keindahan pelangi yang terdiri dari warna-warna berbeda namun saling berdampingan menciptakan sinergi keindahan yang jauh lebih indah jika dibandingkan dengan keindahannya yang terpisah-pisah. 

Warna-warna pelangi tersebut berasal dari satu warna, demikian menurut Isaac Newton.

Perbedaan itu sudah menjadi kehendak (iradah) dari Yang Maha Satu (Ahad). Mengingkarinya, menafikannya, berarti tidak meridhai iradah-Nya. Kita diajak membaca dan merenungkan (iqra’) agar dapat menemukan hikmah-hikmah dari keniscayaan perbedaan tersebut.

“There are two colours in my head” -Radiohead


Monday, December 10, 2012

ALKISAH


ALKISAH, ada seorang kakek yang tinggal di suatu dusun terpencil dimana puluhan tahun dalam hidupnya hanya pernah melihat mobil Toyota model kijang; extra grand, rover, kapsul, dan sbgnya. Suatu hari, sepasang kekasih muda melewati dusun tersebut dengan mengendarai mobil Volkswagen model kodok. Para penghuni dusun memperhatikan bentuk mobil yang tak biasa mereka lihat, termasuk kakek tersebut. Mereka mendebat makhluk macam apa yang tengah mereka saksikan.

Banyak orang yang bertahun-tahun mengenal dan mempelajari agama Islam HANYA melalui satu madzhab tertentu, kerap kurang mampu melihat kebenaran-kebenaran Islam melalui interpretasi madzhab-madzhab Islam lainnya. Ketika seorang anak muda mengatakan bahwa Volkswagen kodok adalah sebuah mobil juga, serta-merta sang kakek marah dan membantahnya.

Dalam dunia jejaring sosial, saya sering menemukan komentar bantah-membantah, kafir-mengkafirkan, sesat-mensesatkan antar orang-orang yang memeluk agama yang sama.

‘Konfrontasi’ merupakan paradigma paling primitif yang hingga kini ternyata masih digunakan manusia dalam ajang saling mengklaim kebenaran masing-masing.

Terkadang, rajin menambah kuantitas informasi tetapi tidak memperbaiki kualitas cara berpikir (paradigma) ibarat seseorang yang mengasah kemampuannya memanjat tetapi ia memanjat sebuah tangga yang disandarkan pada tembok yang salah.

Di sekolah kita terbiasa diberi pertanyaan yang mempunyai hanya satu jawaban. Pola multiple choice yang seringkali kita temukan sepanjang perjalanan hidup di dalam tembok akademis, pun sedikit-banyaknya mempengaruhi paradigma yang menjadikan kita sukar menerima bahwa ada “banyak jawaban berbeda yang sama-sama benar” dalam kehidupan di luar tembok.

Meski hanya ada satu jawaban benar dari pertanyaan 5 + 5 = X, namun dalam kehidupan sehari-hari, pada kenyataannya kita sering menemukan terdapat "banyak jawaban berbeda yang ternyata sama-sama benar", seperti 10 = X + Y.

Sunday, December 2, 2012

MEMBACA ARAH ANGIN


Kita harus MEMBACA ARAH ANGIN sebelum menerbangkan layang-layang.

Dokter wajib mendiagnosa pasiennya untuk menentukan resep yang tepat; penyakit yang di derita, daya tahan tubuh, kemampuan keuangan.

Guru harus memahami karakter dominan masing-masing muridnya; tipe visual, auditori, atau kinesketik.

Orangtua seyogyanya mengenal betul kecenderungan watak masing-masing anaknya; hobinya, cita-cita, orang-orang yang dikagumi, kawan-kawan akrabnya.

Setiap kekasih sangat dianjurkan mengetahui sifat-sifat pasangan hidupnya; latar belakang keluarga, pendidikan, kedekataan agama, pergaulan sosialnya.

Dalam hidup ini, perbedaan adalah suatu keniscayaan. Perbedaan adalah kehendak Sang Pencipta. Dikatakan bahwa, tujuan DIA menciptakan perbedaan adalah untuk saling “kenal-mengenal.”

Cara mengenal paling ampuh adalah dengan mengetahui paradigma seseorang; cara ia melihat, menafsirkan dunia. Bukan waktu yang singkat, bahkan bisa bertahun-tahun hingga kita benar-benar mampu memahami serta melihat melalui “kacamata” mereka, bukan dengan “kacamata” kita lagi.

Akan terdapat banyak pertengkaran, perdebatan, pertikaian, bahkan peperangan hingga sampai pada tingkat pengenalan yang lebih tinggi, yakni saling pengertian, saling memahami, saling empati, dan saling mencintai satu sama lain dengan ketulusan yang luhur.

Ada saatnya ketika antara kekasih, antara anak dan orangtua, antara keluarga, antara bangsa, antara ras, etnis, serta agama, yang sebelumnya bertatap muka saling berdebat, bertikai, bertengkar, dan berperang, suatu saat di ujung hari masing-masing akan duduk berdampingan memandang ke arah yang sama, berkomunikasi dari hati ke hati, saling memahami satu sama lain, dan saling berlomba-lomba berbagi kasih sayang serta menebar kebahagiaan.


“Aku Maha Tahu, sedangkan kalian tidak tahu”, demikian jawaban Tuhan membantah prediksi para malaikat tentang masa depan manusia yang diramalkan hanya membuat kehancuran dan pertumpahan darah di bumi.

Pertumpahan darah antar manusia memang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, sesuai prediksi para malaikat. Kendatipun, mereka tidak mengetahui makna sesungguhnya di balik itu semua.

Mudah-mudahan, apa yang saya paparkan di atas merupakan salah satu hikmah di balik itu semua.

“Tidaklah kita (salah satu makhluk Tuhan) diciptakan bergolong-golongan (dalam keadaan memiliki keniscayaan perbedaan), kecuali bertujuan untuk saling kenal-mengenal satu sama lain (ta’aaruf).”

Saturday, December 1, 2012

BINGKAI LUKISAN


BINGKAI LUKISAN itu bagus sekali, tetapi tidak berarti selalu cocok untuk semua lukisan. Kacamata kepunyaanmu membantu penglihatanmu, namun tidak berarti serta-merta membantu penglihatanku. Seleraku rokok kretek, tak berarti seleramu sama seperti seleraku.

Kita suka terjebak dengan asumsi bahwa cara pandang kita terhadap hidup ini yang kita pikir adalah sesuatu yang baik, maka pasti baik pula untuk oranglain. Kita menduga “cara kita menyetir”, – meskipun itu baik – maka oranglain pun sebaiknya harus menyetir dengan cara seperti itu. Kita merasa cara kepemimpinan yang berhasil pada masa lalu, maka cara itu pasti berhasil di masa depan. Kita berpikir, cara mencari rezeki yang relevan di masa lalu, maka cara itu juga relevan di masa kini. Kita mengira, cara didikan orangtua kita sewaktu kecil, tentu cocok untuk diterapkan dalam mendidik anak kita nanti.

Bukankah ‘pakaian’ yang cocok bagi kita, belum tentu serta-merta cocok dikenakan oleh oranglain?

Berapa banyak orangtua yang memaksakan ‘pakaian’-nya kepada anak-anaknya, lalu terheran ketika mereka enggan memakainya karena merasa tidak cocok? Bukankah keberhasilan model demokrasi di suatu negara ternyata ada yang tidak berhasil diterapkan di negara lain?

Kacamata itu memang cocok dan membantu penglihatan Anda. Tetapi sama sekali tidak membantu – bahkan memperburuk – penglihatan saya.

Betapapun kedua orang pasien mengidap penyakit yang sama persis, namun seorang dokter yang arif tetap harus mendiagnosa keduanya dengan seksama. Siapa tau salah satu dari mereka alergi terhadap sesuatu, seperti tubuh saya yang alergi terhadap jenis antibiotik penicillin.

Guru yang bijak mengetahui betul bahwa metode mengajar yang cocok terhadap suatu murid, belum tentu cocok diterapkan terhadap murid yang lain.

Seorang kawan yang terkenal dengan status “playboy kampung cap duren-tiga” berbagi pengalamannya seputar kisah percintaan dengan semua mantannya yang recently berjumlah 83. Ia memberi petuah, bahwa “pola PDKT yang sama, tidak dapat diterapkan terhadap tipe karakter wanita yang berbeda. Kita harus membaca arah angin sebelum menerbangkan layang-layang”.

Ah seandainya ia memberitahuku sejak dulu, mungkin jumlah mantanku tidak lima... :(



Friday, November 30, 2012

KISAH SINETRON


KISAH SINETRON umumnya mengambil tema-tema dari kehidupan nyata. Kadang sinetron terlalu mendramatisir. Namun, kadangkala ada juga kehidupan nyata yang lebih dramatis melebihi kisah sinetron.

Karakter tokoh-tokoh sinetron kita masih terlalu ekstrim. Karakter tokoh utama terlalu baik, terlalu ikhlas, terlalu lemah-lembut, dan tokoh antagonis teramat kejam, teramat bengis, licik, serta jahat sejahat-jahatnya. Padahal dalam dunia nyata, orang baik tidak se-ekstrim malaikat dan yang jahat tidak se-ekstrim iblis.

Masih sedikit kita dapati sinetron-sinetron Indonesia dimana karakter para tokohnya mencerminkan watak yang mendekati kehidupan nyata. Sinetron Korea jauh lebih unggul menciptakan tokoh-tokoh yang lebih ‘fleksibel’; ada kalanya tokoh utama pernah melakukan kesalahan dan khilaf, ada kalanya tokoh antagonis tidak sejahat yang kita kira, dan pernah melakukan kebaikan juga.

Hidup kita bisa dikatakan tidak begitu jauh berbeda dengan sinetron. Namun, tidak seperti sinetron di tivi, dalam kehidupan nyata kita merupakan salah satu tokoh yang turut berperan. Jauh lebih mudah menebak siapa tokoh antagonis dan siapa tokoh utama dalam sinteron tivi dibandingkan dalam ‘sinetron’ kehidupan kita.

Sebenarnya yang tengah saya kemukakan adalah; amatlah sulit melihat suatu lukisan jika kita merupakan bagian dari lukisan itu sendiri. Untuk melihat lukisan secara utuh, kita harus keluar dari bingkai lukisan kita.

Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat di malam hari sunyi yang tenang, dalam renungan sesekali Anda ‘melihat’ sinetron kehidupan Anda dengan view yang lebih jelas, seakan-akan Anda sedang menonton kisah kehidupan Anda seperti menonton sinetron di tivi.

Sepengetahuan saya pribadi, - yang sangat amat-amat terbatas - salah satu dari beberapa ajaran mistisisme (tasawuf/irfan), para mursyid mengarahkan murid-muridnya untuk keluar dari ‘bingkai lukisan’ dirinya sendiri, lukisan sinetron kehidupannya pribadi. 

Diharapkan dengan view angle tsb, mereka dapat lebih mudah menyingkap hikmah-hikmah dengan jelas di balik berbagai problematika kehidupannya.


Wednesday, November 28, 2012

PARADIGMA


PARADIGMA dalam pengertian yang lebih umum adalah cara kita “melihat” dunia – bukan dengan pengertian visual dari tindakan melihat, melainkan berkaitan erat dengan persepsi, mengerti, menafsirkan. Kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya – atau, sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya. 

Analoginya, paradigma ibarat “kacamata” yang kita pakai untuk melihat.

Seperti kisah yang dikemukakan sebelumnya ( http://celoteh-alfieqashwa.blogspot.com/2012/11/di-tepi-pantai.html ), dua wanita memperdebatkan tentang perbedaan warna laut yang mereka lihat dimana perbedaan tersebut dikarenakan masing-masing sedang memakai warna lensa kacamata yang berbeda. 

Kemudian datang wanita ketiga yang lebih jernih penglihatannya karena ia tidak sedang memakai kacamata berlensa yang membiaskan warna objek yang dilihat. 



Namun, ada seorang pria yang sebenarnya melihat warna yang sama seperti yang di lihat wanita ketiga, tetapi pria berdarah minang itu menyatakannya dengan “simbol” kata yang berbeda dengan simbol-simbol yang umum kita sepakati. Kerap kita menyebut perbedaan antara wanita ketiga dan pria tersebut dengan “miskomunikasi”. 

Tidak semua indera berfungsi sempurna, umpamanya seperti yang dimiliki pria kedua yang mengaku buta warna. Ia tidak yakin dengan warna yang dilihatnya sendiri sehingga ia tidak mendebat meski ia melihat warna yang berbeda dengan keempat orang di tepi pantai tersebut. 

Pun, indera yang sempurna tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok-ukur dalam menentukan kebenaran.








Akal merupakan alat yang lebih tinggi tingkat keabsahannya dibanding indera. Akal membuktikan bahwa sesungguhnya air tidak memiliki warna. 

Air hanya menyerap cahaya dan merefleksikannya – seperti penjelasan para ilmuwan tentang warna laut yang telah saya paparkan dalam note sebelumnya.


Mata kita melihat bahwa bulan lebih besar daripada bintang, namun akal membuktikan sebaliknya.


DI TEPI PANTAI


DI TEPI PANTAI, dua orang wanita sedang berdebat tentang warna laut. Wanita pertama mengatakan bahwa air laut berwarna merah. Wanita kedua membantahnya karena ia melihat warna laut adalah kuning. 

Anda tak perlu heran dengan kisah perdebatan fiksi buatan saya. Jelas kedua wanita itu berbeda pendapat karena wanita pertama tengah memakai kacamata berlensa merah, sedangkan wanita kedua memakai kacamata berlensa kuning.

Kemudian datang wanita ketiga yang mengatakan bahwa laut berwarna biru cerah. Wanita tersebut tidak sedang memakai kacamata. Datang pula seorang pria yang membantah ketiga wanita tersebut. Pria itu mengatakan bahwa warna laut adalah hijau. Pria tersebut juga tidak sedang memakai kacamata, sama seperti wanita ketiga. 

Sekali lagi, Anda tidak perlu heran karena pria tersebut adalah orang Minang asli, yang biasa terbalik mengatakan “hijau itu biru dan biru itu hijau”. J

Lalu datang pria kedua yang mengatakan bahwa ia melihat warna laut itu berwarna ungu. Namun, pria kedua itu tidak yakin dengan kebenaran warna yang dilihatnya itu karena ia menyadari bahwa ia adalah seorang yang buta warna. Pria kedua tsb tidak mendebat meski warna laut yang dilihatnya berbeda dengan keempat orang yang sedang berdebat.



Anda mungkin sepakat dengan wanita ketiga karena umumnya laut terlihat berwarna biru. Mungkin Anda juga pernah sesekali melihat air laut yang terlihat berwarna hijau dan bertanya-tanya apa warna laut sesungguhnya. 

Pada dasarnya, air tidak memiliki warna. Air hanya menyerap cahaya yang kemudian merefleksikannya. Di laut, cara utama air berinteraksi adalah dengan penyerapan cahaya; air menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih rendah, air juga menyerap cahaya kuning dan hijau, menyebabkan warnanya bisa berubah-ubah tergantung kedalaman dan tempatnya.

 Pada umumnya lautan terlihat berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada sinar lain.

“Warna biru merupakan warna yang paling tidak diserap oleh air, sehingga air nampak berwarna biru”. Singkatnya, semakin dalam kedalaman laut, semakin ia berwarna kebiruan. Demikian penjelasan para ilmuwan.

FUNGSI KOSMETIK


FUNGSI KOSMETIK menjadikan wajah wanita terlihat makin menarik. Kosmetik dapat menutupi kulit wajah yang kurang sehat, juga dapat memberi kesan wajah yang lebih proporsional dibanding aslinya . Bahkan, kosmetik dapat juga menipu.

Banyak training kepribadian dimana kita diajarkan kita-kiat merias kepribadian kita dengan kosmetik Sikap Mental Positif (SMP); bagaimana cara tersenyum untuk membuat kesan pribadi yang ramah, bagaimana cara berjabat tangan agar terkesan memiliki jiwa yang optimis, bagaimana cara membuat kesan 'pendengar antusias' di mata lawan bicara, bagaimana cara mengambil hati masyarakat demi tujuan politis semata, dan sebagainya.

Dalam training-training, para mentor MLM (Multi Level Marketing) - juga para marketing asuransi - kerap menyuguhkan bagaimana cara 'merias' kepribadian agar mendapatkan kesan baik di mata calon prospek. Mereka mengajarkan trik-trik seputar kemampuan mempengaruhi, menggiring topik pembicaraan, serta memaparkan berbagai permasalahan agar calon prospek dapat melihat produk-produk yang ditawarkan merupakan sebuah solusi. Kehebatan para mentor, mereka mampu mengeksploitasi semangat para member untuk mencari member-member selanjutnya.



Agak melelahkan merias kepribadian jika pada kenyataannya karakter kita tidak sekuat kenyataannya. Trik-trik instan merias kepribadian mungkin bisa berhasil membuat kesan yang diharapkan terhadap orang-orang yang tidak setiap hari kita temui. Namun bagi orang-orang yang hidup bersama kita dan telah mengenal kita cukup lama, mereka acapkali jelas melihat kemenduaan model kepribadian tersebut.

Kejujuran dalam hidup membentuk karakter yang kuat. Berpura-pura menjadi pribadi lain berakibat buruk terutama dalam hubungan jangka panjang. Membiasakan diri untuk menampakkan pribadi dengan apa adanya, baik-buruknya, jauh lebih utama daripada upaya merias kepribadian. 

Meski terkadang penting juga, namun baiknya kita gunakan kosmetik seperlunya saja, agar 'kulit wajah' tidak lelah.

BERBAGAI


BERBAGAI training “Emotional Quotient (EQ)”, pembentukkan imej adalah priotasnya. Anda hanya akan diajarkan ‘bagaimana cara agar orang lain menganggap Anda adalah orang baik yang dapat dipercaya’ alih-alih mengajarkan kepada Anda menjadi pribadi baik yang layak dipercaya dengan sebenar-benarnya. 

Banyak sekali buku-buku psikologi populer menyajikan kita-kiat jitu untuk ‘membentuk persepsi oranglain terhadap diri Anda sesuai dengan apa yang Anda harapkan’, dan bukan untuk membentuk karakter menjadi pribadi yang baik seperti cara para guru agama kita biasanya memberi teladan.

DR. Stephen R. Covey mengkritik buku-buku psikologi populer tersebut yang hanya berorientasi terhadap Etika Kepribadian semata. Dalam bukunya “The 7 Habits of Highly Effective People” beliau melakukan pendekatan “dari dalam ke luar”, yang  memprioritaskan pembentukan karakter diri yang baik. 

Terkait atau tidak, setelah buku fenomenal itu laris-manis, tema EQ cepat membasi dan kini para psikolog mulai membahas SQ (Spiritual Quotient), mendekati ajaran agama-agama besar.

Ada perbedaan antara persepsi dengan kenyataan. "Persepsi adalah sesuatu yang nyata, namun bukan merupakan kenyataan.", demikian ungkap Edward De Bono. Seperti halnya imej kita tentang pribadi seseorang, belum tentu sesuai dengan watak aslinya.

SATU INFORMASI


SATU INFORMASI yang di terima tidak mesti menciptakan satu persepsi. Persepsi tiap orang tidak serta-merta pasti sama, meski informasi yang diterima masing-masing persis sama. 

Persepsi yang berbeda akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Definisi sejarah adalah “fakta + interpretasi.” Faktanya sama-sama mengakui, bahwa ada pergerakan yang dikomandoi oleh Pangeran Diponegoro. Bagi kita bangsa Indonesia, beliau adalah seorang pahlawan. Namun bagi VOC, beliau adalah pemberontak.

Tidaklah mengherankan jika pembuatan sejarah suatu bangsa sangat bergantung dengan rezim yang berkuasa. Bukan hanya pemutarbalikan fakta, namun interpretasi yang diciptakan pun bergantung kemauan penguasa meski tanpa harus memutarbalikan fakta. 

Dalam dunia selebritis, imej seorang artis dapat ‘di bunuh’ habis-habisan oleh sebuah infotainment setelah suatu kali sang artis melecehkan harga diri salah seorang wartawannya dalam sebuah wawancara. Padahal sebelumnya, infotainment yang sama pernah turut berkontribusi melesatkan nama artis tersebut menjadi terkenal. ‘Pembunuhan karakter’ seseorang dapat lebih menyakitkan dibanding pembunuhan dalam artian sebenarnya.

Yang ingin saya katakan adalah, ada beragam persepsi. 
Seperti, Ibu Anda mungkin menyalahkan A’a Gym yang berpoligami. Tetapi Ayah Anda justru mendukungnya, meski dukungannya terhadap A’a baru berani beliau lakukan dalam hati.

ORANGTUA DAN PARA GURU


ORANGTUA DAN PARA GURU kerap mengajarkan cara baik, seperti “lihat kiri dan lihat kanan” ketika hendak menyeberang jalan. Mereka juga mengatakan kepada kita untuk mendengar dari ‘telinga kiri dan kanan’, bentuk ungkapan konotasi agar kita membiasakan mendengar dari berbagai sisi. 

Para ilmuwan menyatakan bahwa ‘otak kanan’ dan ‘otak kiri’ memiliki fungsi berpikir serta cara kerja yang berbeda – bahkan dapat dikatakan bertolak belakang – dalam memproses stimulus-stimulus yang diterimanya. Di butuhkan tesa serta anti-tesa untuk merumuskan sintesa.

Naluri dasar kita sebenarnya mengetahui betul bahwa mendengarkan dari berbagai sumber merupakan sikap bijaksana. Kita pun amat sadar bahwa tidak baik menyimpulkan sesuatu berdasarkan satu sumber informasi semata. Sekiranya satu sumber itu pun benar, setidaknya kita membutuhkan informasi lain untuk membuktikan kebenaran sumber tersebut.

Kita mengetahui dan sepakat tentang semua hal itu. Namun, mengaktualisasikannya tak semudah penyepakatan, jika kita tidak membiasakan diri.

AGAKNYA


AGAKNYA, Tuhan menciptakan 'sepasang' indera input seperti telinga dan mata agar kita mampu dan – terutama mau – menerima informasi-informasi dari berbagai sumber dan versi. Indera-indera input itulah yang pertamakali berjabat tangan langsung dengan stimulus-stimulus yang membawa informasi. Kita perlu mendengar lebih banyak serta seksama untuk melihat lebih jelas lagi mendetail sebelum mengambil suatu kesimpulan.

Kita juga membutuhkan lidah sebagai alat pengenal rasa serta deretan gigi sebagai pengunyah makanan sebelum kita telan. Dengan menganalogikan informasi sebagai makanan, katakanlah semisal buah pisang, amatlah tidak cerdas apalagi bijak - serta agak berbahaya – jika kita menelan tanpa mengecap atau tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. 

Bahkan seekor kucing paling tidak berpendidikan pun tidak pernah melakukan cara makan seperti itu.

KABAR BURUNG


KABAR BURUNG menginformasikan bahwa suaminya selingkuh. Entah burung mana yang pertama kali memberi informasi tsb serta bagaimana rumor itu berkembang, namun yang jelas kabar itu telah sampai ke telinga sang istri. Informasi yang ‘dikabarkan burung’ telah menimbulkan kecurigaan sehingga sang istri memutuskan menyelidiki suaminya.

Kecurigaan terkadang menciptakan 'persepsi selektif'. Sang istri akan mencari bukti-bukti yang menguatkan kebenaran kabar burung yang diterimanya. Singkat kisah, ternyata suaminya terbukti tidak selingkuh dan kabar burung itu hanya gossip murahan yang disebarkan oleh salah seorang kolega suami yang memiliki dendam pribadi.

Meski kecurigaan sang istri terhadap suaminya tidak terbukti, namun keputusannya untuk melakukan penyelidikan adalah suatu tindakan benar. Penyelidikan berkaitan erat terhadap pencarian bukti-bukti kuat nan akurat yang akan menentukan kuat atau lemahnya asumsi awal. 

Seseorang yang memfokuskan diri untuk mencari bukti-bukti thd berbagai kemungkinan, berarti telah menyadari bahwa kecurigaan semata tidaklah memadai dalam mencapai kebenaran tanpa adanya bukti-bukti shahih.

SEORANG IBU


SEORANG IBU diberitahu informasi dari tetangganya yang mengaku pernah melihat anak laki-laki ibu tersebut mengkonsumsi narkoba. Sang ibu tidak mempercayai informasi tersebut. 

Menurutnya, mustahil anaknya mengkonsumsi barang haram karena ia mengenal anaknya sebagai seorang yang taat beribadah. Alih-alih menampung informasi tersebut, ia menjadi kesal terhadap tetangganya itu sehingga hubungan mereka menjadi kurang baik.

Padahal, bisa jadi informasi dari tetangganya itu benar dan sangat berharga karena dapat menyadarkan Ibu tersebut dari kelengahannya sebagai orangtua. Sebaliknya, mungkin saja informasi itu tidak terbukti kebenarannya. Namun, sikap bernama pre-judge telah mencegah Ibu tersebut untuk mengetahui lebih jauh kebenaran sesungguhnya.

Biasanya, kita akan meng-uninstall software bernama pre-judge dari hardware otak kita ketika telah menyesal pernah menolak mentah-mentah suatu informasi yang ternyata di kemudian hari terbukti benar, atau – sebaliknya – menyesal karena pernah mempercayai begitu saja suatu informasi yang ternyata terbukti salah.